Berita Hawzah – Asosiasi Pusat-Pusat Budaya Imam Khomeini (ra) di Lebanon menggelar pertemuan budaya dan pemikiran di kota Qana, Lebanon Selatan, dalam rangka peringatan ulang tahun ke-47 kemenangan Revolusi Islam Iran dan bagian dari “Pekan Komandan Syahid”. Acara dihadiri oleh Hujjatul Islam Syeikh Akram Barkat, Wakil Budaya Hizbullah, bersama sejumlah ulama, aktivis, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lalu Syeikh Barkat menyampaikan bahwa gerakan perlawanan telah membuktikan legitimasi dirinya melalui tindakan nyata, menghasilkan prestasi yang sebelumnya tak terbayangkan. Pada tahun 2000, perlawanan berhasil membebaskan wilayah, dan pada 2006, melalui keteguhan dan konsistensi, mencapai kemajuan penting lainnya.
Ia merujuk pada pernyataan seorang intelektual Yordania saat itu yang menyebutkan bahwa perlawanan mampu menghidupkan kembali semangat rakyat yang sebelumnya patah, melampaui rasa keterpurukan yang mereka alami. Diskursus dan tindakan ini kemudian menyebarkan semangat perlawanan di seluruh dunia Arab dan Islam, menjadi ancaman serius terhadap kepentingan Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Menurut Syeikh Barkat, mereka yang berdiri bersama Palestina adalah pemegang keyakinan yang berlandaskan solidaritas umat Islam, kesadaran sosial, dan pemikiran Imam Khomeini (ra), yang percaya pada “harapan konstruktif” dan upaya menghapus hambatan menuju keadilan. Mereka bertindak berdasarkan prinsip bahwa membela yang tertindas adalah kewajiban agama dan moral. Di dalam pandangan ini, kepemimpinan dan pemerintahan harus berlandaskan nilai-nilai Islam, bukan pragmatisme yang membenarkan segala cara demi tujuan.
Di akhir pidatonya, ia menyatakan: “Hari ini kita berbicara tentang yang tertindas di Gaza. Pertanyaannya adalah: apa posisi kita? Apakah kita akan bersikap netral atau melaksanakan kewajiban Islam kita? Netralitas tidak sejalan dengan agama dan nilai. Jika kita memilih netral, mungkin kerugian materi lebih kecil, tapi kita akan kehilangan harga diri, martabat, dan makna. Apa yang terjadi bagi kami adalah kami mempertahankan martabat kami dan terus berjalan tegak, karena kami membela yang tertindas dan berdiri di pihak kebenaran; dan keteguhan ini bukan hanya mencegah kerugian, tetapi juga menjadi awal kemenangan.”


Your Comment